Connect with us

Pendidikan

Penilaian pada Kondisi Khusus Pandemi di SMA

Published

on

Penilaian pada Kondisi Khusus di SMA masa pandemi 2021

Kebijakan Belajar Dari Rumah (BDR) pada institusi pendidikan memberikan dampak besar terhadap proses pembelajaran dan penilaian. Pedoman penyelenggaraan belajar dari rumah telah mengatur mekanisme pembelajaran dari rumah sehingga perlu dirancang ulang pembelajaran jarak jauh dengan menggunakan pendekatan daring, luring atau kombinasi. Hal ini tentu saja akibat masih merebaknya pandemi Covid-19 di Indonesia, bahkan di luar negeri.

Sekolah dapat memanfaatkan ketersediaan sarana prasarana untuk melaksanakan proses pembelajaran dan penilaian secara optimal. Tujuan BDR adalah untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup, aktifitas, dan tugas pembelajaran yang bervariasi.

Implementasi kurikulum pada masa BDR dituangkan dalam Keputusan Menteri Nomor 719/P/2020, yang mengamanatkan bahwa pelaksanaan kurikulum pada kondisi khusus bertujuan untuk memberikan fleksibilitas bagi sekolah untuk menentukan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran siswa. Kondisi khusus adalah suatu keadaan bencana yang ditetapkan oleh pemerintah pusat atau pemerintah daerah. Sekolah pada kondisi khusus dalam pelaksanaan pembelajaran dapat tetap mengacu pada kurikulum nasional, kurikulum yang disederhanakan sesuai ketetapan kepala badan penelitian dan pengembangan perbukuan, kurikulum secara mandiri. Pilihan kurikulum berlaku untuk satu tahun pelajaran.

Berdasarkan Kepmendikbud tersebut, maka diperlukan Pelaksanaan Penilaian pada kondisi khusus pada satuan pendidikan. Dalam mendukung kebijakan tersebut, Direktorat SMA sesuai dengan tugas dan fungsinya melakukan penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria di bidang Penilaian. Naskah yang dikembangkan adalah Penilaian pada Kondisi Khusus di SMA yang bertujuan untuk membantu guru dalam melaksanakan penilaian pada situasi dimana pertemuan tatap muka sangat terbatas.

Pelaksanaan penilaian meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan tetap menerapkan prinsip penilaian termasuk dalam kondisi khusus. Penilaian pada Kondisi Khusus di SMA ini diharapkan dapat memberikan inspirasi untuk satuan pendidikan dan guru di SMA dalam melaksanakan penilaian, termasuk melakukan adaptasi sesuai dengan kondisi dan sumber daya yang ada. Buku ini memuat lingkup penilaian, bentuk penilaian, mekanisme, instrumen, strategi pelaksanaan, praktik baik, pengolahan, dan pelaporan.

Latar Belakang Penilaian pada Kondisi Khusus Pandemi di SMA 2021

Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan menjelaskan bahwa penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar siswa. Cara penilaian hasil belajar siswa pada pendidikan dasar dan menengah meliputi aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Metode penilaian sikap dapat dilakukan melalui observasi/pengamatan dan teknik penilaian lain yang relevan, dan pelaporannya menjadi tanggungjawab wali kelas atau guru kelas. Penilaian pada aspek pengetahuan dapat dilakukan melalui tes tertulis, tes lisan, dan penugasan sesuai dengan kompetensi yang dinilai. Penilaian pada aspek keterampilan dapat dilakukan melalui praktik, produk, proyek, portofolio, dan atau teknik lain sesuai dengan kompetensi yang dinilai.

Pandemi Covid-19 merupakan musibah nasional yang tidak terduga sebelumnya bahkan dialami penduduk seluruh dunia. Seluruh segmen kehidupan manusia terganggu, termasuk sektor pendidikan sehingga pemerintah memutuskan membatasi aktivitas sekolah. Siswa dibatasi kegiatannya dan harus belajar dari rumah, demikian pula guru melakukan pembelajaran dari rumah atau sekolah. Pembatasan aktivitas untuk tidak melakukan pembelajaran tatap muka untuk meminimalisir penyebaran Covid-19.

Akibat pembatasan tersebut mendorong semua pihak memanfaatkan teknologi yang tersedia untuk tetap terlaksananya pembelajaran. Realita menunjukkan bahwa ketersediaan perangkat dan akses masih menjadi kendala bagi sebagian guru, siswa dan orangtua/ masyarakat. Demikian juga tentang psikologis anak-anak dan hubungan sosial yang terbiasa belajar bertatap muka langsung dengan guru-guru menjadi pembelajaran jarak jauh. Dampak kondisi seperti ini akan mempengaruhi kualitas pembelajaran.

Untuk merespon dampak tersebut di atas, pemerintah menerbitkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang pelaksanaan pendidikan dalam masa darurat Coronavirus disease (Covid-19). Pada kondisi ini layanan pendidikan di sekolah dilaksanakan dengan Belajar Dari Rumah (BDR) melalui pembelajaran daring/jarak jauh. Tujuannya untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup, aktifitas, dan tugas pembelajaran yang bervariasi.

Baca juga: RPP 1 Lembar Bahasa Indonesia Kur 2013 Revisi Terbaru

Kebijakan Belajar Dari Rumah (BDR) pada institusi pendidikan jelas memberi dampak besar terhadap proses pembelajaran dan penilaian. Oleh karena itu, melalui Surat Edaran Nomor 15 tahun 2020 tentang pedoman penyelenggaraan belajar dari rumah telah mengatur mekanisme pembelajaran dari rumah sehingga perlu dirancang ulang pembelajaran jarak jauh dengan menggunakan pendekatan daring, luring atau kombinasi. Sekolah dapat memanfaatkan ketersediaan sarana prasarana untuk melaksanakan proses pembelajaran secara optimal.

Akibat kondisi pandemik Covid-19 belum berakhir, maka dipandang perlu menyesuaikan kurikulum pada kondisi khusus. Keputusan Menteri Nomor 719/P/2020 mengamanatkan bahwa pelaksanaan kurikulum pada kondisi khusus bertujuan untuk memberikan fleksibilitas bagi sekolah untuk menentukan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran siswa. Kondisi khusus adalah suatu keadaan bencana yang ditetapkan oleh pemerintah pusat atau pemerintah daerah.

Sekolah pada kondisi khusus dalam pelaksanaan pembelajaran dapat tetap mengacu pada kurikulum nasional, kurikulum yang disederhanakan sesuai Ketetapan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan (https://bersamahadapikorona.kemdikbud.go.id/wpcontent/uploads/2020/08/Salinan-SK-KaBalitbang-No-018-2020.pdf), dan kurikulum secara mandiri. Pilihan kurikulum berlaku untuk satu tahun pelajaran.

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan Direktorat SMA, bahwa sebagian besar guru mengalami kesulitan dalam melakukan proses penilaian pada kondisi khusus. Berkaitan hal tersebut Direktorat SMA secara teknis perlu memfasilitasi permasalahan tersebut dengan membuat buku Penilaian pada Kondisi Khusus. Guru dalam melakukan penilaian hasil belajar agar tetap berpegang pada prinsip-prinsip penilaian. Buku ini diharapkan dapat membantu guru dalam merencanakan, melaksanakan, menyusun laporan, dan memanfaatkan hasil penilaian pada kondisi khusus untuk meningkatkan mutu pendidikan di SMA.

Secara umum tujuan buku Penilaian pada Kondisi Khusus di SMA sebagai berikut.

  1. Memberikan inspirasi pelaksanaan penilaian hasil belajar dalam kondisi khusus.
  2. Meningkatkan wawasan guru dalam melakukan alternatif penilaian untuk aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
  3. Mendorong agar proses pembelajaran dilaksanakan secara kontekstual dan bermakna.

Latar Belakang Penilaian pada Kondisi Khusus Pandemi di SMA 2021

Penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar siswa. Pencapaian hasil belajar yang dimaksud mengacu pada pencapaian kompetensi yang dirumuskan dalam Standar Kompetensi Lulusan (jenjang satuan pendidikan), Kompetensi Inti (tingkat kelas), dan Kompetensi Dasar (kompetensi melalui mata pelajaran).

Metode pengambilan skor perlu dilaksanakan melalui tiga pendekatan, yaitu penilaian atas pembelajaran (assessment of learning), penilaian untuk pembelajaran (assessment for learning), dan penilaian sebagai pembelajaran (assessment as learning).

Penilaian atas pembelajaran dilakukan untuk mengukur capaian siswa terhadap kompetensi yang telah ditetapkan. Penilaian untuk pembelajaran memungkinkan guru menggunakan informasi kondisi siswa untuk memperbaiki pembelajaran, sedangkan penilaian sebagai pembelajaran memungkinkan siswa melihat capaian dan kemajuan belajarnya untuk menentukan target belajar.

Penilaian pada kondisi khusus adalah penilaian yang dilakukan pada pembelajaran jarak jauh sehingga membutuhkan adaptasi (penyesuaian) dalam melakukan pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar siswa. Penyesuaian penilaian pada kondisi khusus memiliki keterbatasan, antara lain: tatap muka langsung, sumber belajar, alat, dan bahan praktik, serta proses bimbingan dan pengawasan.

Lingkup penilaian pada pendidikan dasar dan menengah mencakup penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Penilaian sikap mencakup sikap spiritual dan sikap sosial, diperoleh melalui aktivitas menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan. Sikap juga mengacu lima nilai karakter yang dapat dijadikan indikator dasar yaitu religiusitas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas.

Secara umum, objek sikap yang perlu dinilai dalam proses pembelajaran adalah:

  1. sikap terhadap materi pelajaran;
  2. sikap terhadap guru/pengajar;
  3. sikap terhadap proses pembelajaran; dan
  4. sikap terhadap nilai dan norma dalam keluarga maupun di lingkungan.

Penilaian pengetahuan mencakup dimensi pengetahuan dan dimensi proses kognitif. Dimensi pengetahuan mencakup pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif sedangkan dimensi proses kognitif terdiri atas mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.
Dimensi pengetahuan adalah sebagai berikut.

  1. Faktual: Pengetahuan teknis dan spesifik, detail, dan kompleks berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya terkait dengan masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, kawasan regional, dan internasional.
  2. Konseptual: Terminologi/ istilah dan klasifikasi, kategori, prinsip, generalisasi, teori, model, dan struktur yang digunakan terkait dengan pengetahuan teknis dan spesifik, detail dan kompleks berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya terkait dengan masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, kawasan regional, dan internasional.
  3. Prosedural: Pengetahuan tentang cara melakukan sesuatu atau kegiatan yang terkait dengan pengetahuan teknis, spesifik, algoritma, metode, dan kriteria untuk menentukan prosedur yang sesuai berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya, terkait dengan masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, kawasan regional, dan internasional.
  4. Metakognitif: Pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan diri sendiri dan menggunakannya dalam mempelajari pengetahuan teknis, detail, spesifik, kompleks, kontekstual dan kondisional berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya terkait dengan masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, kawasan regional, dan internasional.

Dimensi proses kognitif meliputi tingkatan berpikir sebagai berikut.

  1. Mengingat: menyatakan kembali informasi yang dipelajari.
  2. Memahami: menangkap makna dan memahami informasi dengan menafsirkan dan menerjemahkan apa yang dipelajari.
  3. Menerapkan: menggunakan informasi dalam konteks yang berbeda dengan apa yang dipelajari.
  4. Menganalisis: mengurai informasi ke dalam bagian-bagian untuk mengeksplorasi pemahaman dan hubungan bagian-bagian tersebut.
  5. Mengevaluasi: membuat keputusan berdasarkan refleksi, telaah, dan penilaian yang mendalam dengan memberikan argumentasi atas keputusannya tersebut.
  6. Mencipta: membuat atau mencipta informasi atau gagasan baru menggunakan informasi yang dipelajari dengan membuat produk, gagasan, cara, atau hal baru.

Penilaian keterampilan meliputi ranah konkrit dan ranah abstrak. Keterampilan konkrit adalah kemampuan bertindak terkait dengan kemampuan motorik atau kemampuan anggota tubuh melakukan suatu tindakan atau kegiatan prosedural. Keterampilan abstrak adalah kemampuan berpikir dan belajar atau kemampuan menggunakan pengetahuan (konsep, prinsip, prosedur, dan metakognitif) dalam bertindak atau memecahkan masalah nyata (kontekstual).

Penilaian keterampilan digunakan untuk memperoleh informasi kemampuan berpikir (abstrak) dan bertindak (konkrit) yang dapat diamati dan diukur. Tingkat kompetensi ketrampilan dan contoh berpikir, dan atau bertindak yang dapat diukur adalah sebagai berikut.

  1. Mengamati, antara lain: melihat, membaca, meneropong, merekam, memotret, mendengarkan, menonton.
  2. Menanya, antara lain: bertanya lisan/tertulis, mengidentifikasi masalah, merumuskan masalah, memancing pertanyaan.

Mencoba, antara lain: meniru, melakukan instruksi, mengoperasikan, menuliskan, melafalkan, membacakan, mempraktikan, mendemonstrasikan, mencoba resep.

  1. Menalar, antara lain: mengelompokan, mengurutkan, menyusun, menabelkan, membuat grafik, memadukan, menyimpulkan, merumuskan, mewarnakan, memantaskan, merangkai.
  2. Menyaji, antara lain: mempresentasikan, melaporkan, memilemkan, memerankan, mendongeng, memainkan, memamerkan, menceritakan, memajang, menghidangkan, menjajakan, mementaskan, memasarkan.
  3. Mencipta, antara lain: meramu, menambahkan, mengganti, memodifikasi, merekomendasikan, mengusulkan, memperbaiki, mereviu, merekayasa, membuat, merancang, mendesain, membentuk.

Bentuk dan Teknik Penilaian pada Kondisi Khusus Pandemi di SMA

Penilaian sebagai proses pengumpulan informasi memerlukan tahapan pengukuran dan atau non pengukuran melalui judgement. Pengumpulan informasi ketercapaian hasil belajar melalui tes tertulis, tes lisan, tes praktik, pengamatan, jurnal, penugasan, portofolio, dan lain-lain.

Bentuk dan Teknik Penilaian Sikap

  1. Pengamatan
    Pengamatan dalam menilai sikap siswa merupakan teknik yang dilakukan secara berkesinambungan. Asumsinya setiap siswa pada dasarnya memiliki sikap atau perilaku baik sehingga yang perlu dicatat hanya perilaku yang sangat baik atau kurang baik yang muncul dari siswa. Catatan hal-hal sangat baik digunakan untuk menguatkan perilaku baik, sedangkan perilaku kurang baik digunakan untuk pembinaan.

Pengamatan sikap selama satu semester dilakukan oleh guru mata pelajaran, guru BK, dan wali kelas. Pada kondisi khusus, pengamatan sikap dilakukan oleh orangtua dan keluarga. Hasil pengamatan ini dibuat dalam jurnal memuat catatan sikap atau perilaku siswa yang sangat baik atau kurang baik, dilengkapi dengan waktu terjadinya perilaku tersebut.

b. Penilaian Diri

Penilaian diri dilakukan dengan cara meminta siswa untuk mengemukakan kekuatan dan kelemahan dirinya dalam berperilaku. Selain itu penilaian diri juga dapat digunakan untuk membentuk sikap siswa terhadap mata pelajaran. Hasil penilaian diri siswa dapat digunakan sebagai data konfirmasi. Penilaian diri dapat memberi dampak positif terhadap perkembangan kepribadian siswa, antara lain dapat:
1. menumbuhkan rasa percaya diri karena diberi kepercayaan untuk menilai diri sendiri;
2) menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya karena ketika melakukan penilaian harus melakukan introspeksi terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimiliki;
3) mendorong, membiasakan, dan melatih siswa untuk berbuat jujur karena dituntut untuk jujur dan objektif dalam melakukan penilaian; dan
4) membentuk sikap terhadap mata pelajaran/pengetahuan.

c. Penilaian Penilaian Antarteman

Metrode Penilaian antarteman adalah penilaian dengan cara siswa saling menilai perilaku temannya. Penilaian antarteman bertujuan untuk memperkuat hasil penilaian sikap. Untuk itu diperlukan perangkat daftar cek (checklist) yang dibuat guru berisi tentang perilaku yang dinilai.

Penilaian antarteman dapat mendorong: (a) objektivitas siswa, (b) empati, (c) mengapresiasi keragaman/perbedaan, dan (d) refleksi diri. Di samping itu penilaian antarteman dapat memberi informasi bagi guru mengenai siswa yang berdasarkan hasil penilaian temannya, misalnya suka menyendiri dan kurang bergaul.

Dalam kondisi khusus dengan pembatasan aktivitas menyulitkan guru melakukan pengamatan langsung. Pengamatan langsung masih dapat dilakukan selama kegiatan tatap muka jarak jauh atau hasil aktivitas siswa melaksanakan tugas-tugas pembelajaran. Penilaian antar teman untuk siswa baru juga terhambat oleh kurangnya informasi antar teman. Oleh karena itu, penilaian sikap selama pandemi Covid-19 atau kondisi khusus dapat menggunakan penilaian diri yang disiapkan oleh guru dengan bantuan orang tua siswa.

Bentuk dan Teknik Penilaian Pengetahuan

a. Tes Tertulis

Metode tes kali ini adalah tes yang menggunakan respon/jawaban tertulis. Tes ini dapat dilakukan berbasis kertas dan atau berbasis komputer, termasuk tes listening pada mata pelajaran bahasa merupakan salah satu bentuk tes tertulis. Tes tersebut dapat berupa pilihan ganda, uraian, menjodohkan, benar salah, dan lain-lain

b. Tes Lisan

Tes lisan adalah tes yang pelaksanaannya dilakukan dengan mengadakan tanya jawab secara langsung yang menuntut respon/jawaban dari siswa dalam bentuk lisan. Siswa akan mengucapkan jawaban dengan kata-katanya sendiri dapat berupa kata, frase, kalimat maupun paragraf sesuai dengan pertanyaan atau perintah yang diberikan. Dari segi persiapan dan cara bertanya, tes lisan dapat dibedakan sebagai berikut.

1) Tes lisan bebas, yaitu pendidik memberikan soal kepada siswa tanpa menggunakan pedoman yang dipersiapkan secara tertulis. Kelemahan tes lisan bebas ini adalah sukar menentukan standar jawaban yang benar, sebab jawaban siswa sifatnya beraneka ragam.

2) Tes lisan berpedoman, yaitu pendidik menggunakan pedoman tertulis tentang apa yang akan ditanyakan kepada siswa. Tes ini lebih mudah dalam memeriksanya karena dapat lebih mudah ditetapkan standar jawaban yang benar.

c. Penugasan

Penugasan adalah pemberian tugas kepada siswa untuk mengukur dan atau meningkatkan pengetahuan. Metode ini dapat dilakukan sebelum, selama proses pembelajaran, dan setelah pembelajaran. Penugasan dapat dikerjakan secara individu atau kelompok sesuai dengan karakteristik tugas.

Metode penilaian yang satu ini lebih ditekankan pada pemecahan masalah dan dinilai berdasarkan aspek substansi, bahasa, dan estetika. Aspek substansi melihat penguasaan konten sesuai dengan KD, aspek bahasa melihat kemampuan menggunakan bahasa dengan baik dan benar, aspek estetika melihat kemampuan menyaji dan mengorganisasi informasi secara efektif.

Dalam kondisi khusus pelaksanaan penilaian pengetahuan perlu diadaptasi. Guru memperbolehkan siswa untuk membuka buku catatan, mengakses internet, dan sumber belajar lainnya. Bentuk tes pilihan ganda atau uraian yang disiapkan guru perlu diadaptasi agar jawaban siswa tidak sekedar memindahkan atau mengungkapkan kembali apa yang dipelajari, tetapi siswa mampu menuangkan hasil berpikirnya dengan menggunakan konteks kehidupan nyata sebagai media penerapan pengetahuan dalam kondisi yang berbeda.

Bentuk dan Teknik Penilaian Keterampilan

a. Kinerja/Praktik

Penilaian kinerja/praktik digunakan untuk menilai kemampuan bertindak, yaitu melakukan gerak motorik, langkah prosedural, dan atau kinerja tertentu yang dapat diamati. Pengamatan langsung dapat dilakukan pada saat melakukan kegiatan seperti eksperimen, presentasi, tugas projek, pertunjukan, pameran, praktik ibadah, dan kegiatan prosedural lainnya. Pengamatan tidak langsung pada kondisi khusus dapat dilakukan melalui rekaman video, rekaman audio, atau dokumentasi foto.

b. Produk

Penilaian produk digunakan untuk menilai kemampuan berpikir dan bertindak dalam bentuk hasil akhir kemampuan tersebut. Produk yang dinilai dapat berbentuk produk riil (barang jadi seperti poster, lukisan, alat peraga, atau hasil produk lainnya) dan produk ide/gagasan dalam bentuk dokumen (seperti bahan presentasi, laporan, proposal projek, karya tulis, atau dokumen lainnya) sebagai hasil berpikir menerapkan pengetahuan dalam menyelesaikan masalah.

c. Projek

Penilaian projek digunakan untuk menilai kemampuan berpikir dan bertindak dalam merencanakan, melaksanakan, dan melaporkan kegiatan projek, termasuk projek bersama lintas mata pelajaran. Penilaian projek mencakup aspek perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan.

d. Portofolio

Penilaian portofolio digunakan untuk menilai kemampuan berpikir dan bertindak secara bertahap dan berkelanjutan sehingga diperoleh informasi perkembangan atau peningkatan kemampuan tersebut. Beberapa kompetensi mata pelajaran, seperti: Bahasa Indonesia, PJOK, Prakarya dan Kewirausahaan, atau mata pelajaran lain dapat menggunakan penilaian portofolio sesuai dengan kompetensi yang bertahap dan berkelanjutan.

Dalam kondisi khusus penilaian keterampilan perlu diadaptasi dalam pelaksanaan disesuaikan dengan ketersediaan sumber daya dan kemampuan pelaksanaan oleh siswa. Sumber daya yang dimaksud dapat memanfaatkan alat dan bahan yang tersedia di rumah atau lingkungan sekitar, memanfaatkan aplikasi virtual, dan media sosial.

Secara keseluruhan dalam kondisi khusus dimungkinkan terjadinya kolaborasi pembelajaran dan penilaian antar kompetensi dasar, lintas mata pelajaran, sekaligus menilai kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dengan cara ini dapat mengurangi beban tugas siswa, membiasakan pembelajaran kontekstual dan komprehensif, sehingga mampu mengefektifkan proses pembelajaran dan penilaian.

Mekanisme penilaian sikap dijelaskan sesuai skema di bawah ini:

Mekanisme penilaian sikap dalam kondisi khusus

Kesimpulan

Penilaian hasil belajar dalam kondisi khusus pandemi memegang peranan sangat penting dilakukan untuk mengetahui ketercapaian hasil belajar. Penilaian tersebut dapat dilakukan baik pada proses pembelajaran dalam rangka untuk memperbaiki kegiatan pembelajaran maupun pada akhir kegiatan pembelajaran untk mengetahui penilaian hasil belajar.

Penilaian dalam kondisi normal dan kondisi khusus adalah tetap berpegang pada prinsip penilaian, yaitu valid, reliabel, adil, fleksibel, autentik, dan terintegrasi. Pelaksanaan prinsip penilaian tersebut dapat diadaptasi melalui teknik dan bentuk menyesuaikan kondisi khusus yang dihadapi sesuai dengan ketersediaan dan sumber daya. Semua bentuk dan teknik penilaian tetap dapat dilakukan untuk tetap menjaga kualitas pembelajaran dan penilaian.

Dampak psiko sosial yang dialami oleh siswa perlu mendapatkan perhatian khusus agar membangkitkan semangat, timbul percaya diri, dan termotivasi. Hal ini dapat dilakukan melalui umpan balik pada penilaian proses untuk memperbaiki proses pembelajaran melalui moda daring, luring, dan atau kombinasi.

Melalui praktik baik yang ada, dapat menginspirasi sekolah maupun guru dalam melaksanakan pembelajaran dan penilaian. Inspirasi tersebut dapat dikembangkan dengan memanfatkan teknologi informasi dan komunikasi, melakukan aktivitas yang beragam, dan memaksimalkan ketersediaan sumber daya yang dimiliki.

Sumber: Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan 2020

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © Ceriwit - All Rights Reserved

%d blogger menyukai ini: