Connect with us

Unik

Berbagai Jenis Kesalahan Berpikir atau Logical Fallacy

Published

on

Berbagai Jenis Kesalahan Berpikir atau Logical Fallacy

Review Buku Thinking Fast and Slown-Anda mungkin pernah gregetan, melihat orang yang seharusnya pintar, tapi pek*k. Misalnya, seorang doktor, lulusan perguruan tinggi bagus di luar negeri, tapi kengeluarkan pernyataan pek*k. Sering kan? Kenapa bisa begitu? Apakah dia bodoh? Kalau bodoh, kok bisa jadi doktor?

Pintar dan bodoh itu bukan hal permanen. Gampangnya kita bisa analogikan dengan orang kekar berotot. Orang cerdas punya kemampuan berpikir yang tinggi, seperti orang berotot punya kemampuan fisik yang tinggi. Tapi kemampuan tidak akan ada artinya kalau tidak dipakai. Orang yang berotot, bisa saja tidak sanggup mengangkat 10 kg beras, kalau ia tidak memakai kemampuan ototnya.

Ringkasnya, orang pek*k itu bukan karena ia tak punya kemampuan berpikir, tapi karena ia tak mau memakainya. Atau, ia memakainya secara keliru. Itulah yang disebut logical fallacy. Orang cerdas, yang pernah memakai kecerdasannya untuk meraih gelar doktor, bisa saja jadi pek*k, karena tidak memakai, atau salah memakai nalarnya.

Kok bisa?

Ada banyak hal yang bisa membuat nalar berhenti. Salah satunya, kepercayaan. Kepercayaan bekerja seperti sistem jalan pintas, yang menganulir nalar atau proses berpikir logis. Celakanya, ada kalanya kepercayaan menggiring nalar untuk seolah sedang berpikir dengan mekanisme logis, tapi mekanism itu cacat, karena dipotong agar sesuai dengan kepercayaan tadi. Jadi, kita bisa temukan orang pintar, mengutak-atik sesuatu, seolah sedang bernalar, tapi sebenarnya ia sedang pek*k.

Nalar yang cacat itu disebut bias. Kenapa ada bias, kemudian fallacy? Daniel Lahneman menjelaskannya melalui 2 sistem berpikir.

Berpikir Cepat dan Lambat 

Kalau kita disuruh menghitung 2+2 maka dengan cepat kita bisa menyebutkan hasilnya. Demikian pula kalau kita ditanya siapa nama Presiden RI. Menjawab pertanyaan itu adalah soal mudah bagi otak kita. Tapi kalau kita diminta menjawab 5374×634, tentu tak mudah bagi kita untuk menjawabnya. Kita perlu secarik kertas dan sebatang pensil untuk menghitungnya.

Menurut Daniel Kahneman, manusia punya 2 sistem berpikir, yang ia sebut Sistem 1 dan Sistem 2. Sistem 1 adalah cara berpikir cepat, otomatis, dan tidak memerlukan banyak energi.  Sistem 2 adalah sistem berpikir lambat, harus digerakkan oleh kehendak, dan memerlukan banyak energi.

Dalam keseharian kita memakai 2 sistem itu. Kita memakai Sistem 1 dan Sistem 2 secara bergantian, tergantung kebutuhan. Ketika disodori masalah mudah, kita memakai Sistem 1, dan ketika menghadapi masalah sulit, kita memakai Sistem 2.

Ciri Sistem 2 adalah memerlukan banyak energi. Manusia tidak bisa berlama-lama di sistem ini. Selalu ada usaha untuk mengalihkan ke Sistem 1 yang tidak memerlukan banyak energi. Sistem 1 lebih nyaman buat manusia.

Kedua sistem ini bekerja, dipakai manusia dalam membuat berbagai keputusan. Tapi pada saat yang sama, kombinasi kedua sistem itu juga menghasilkan berbagai bias dan fallacy.

Tanpa disadari, manusia banyak melakukan fallacy, karena didorong oleh kombinasi kedua sistem tadi. Sistem 1 ingin selalu mencari jalan mudah, hemat energi dalam berpikir. Itu membuat manusia terjebak untuk membuat kesimpulan cepat, tapi salah.

Daniel Kahneman adalah ahli psikologi Israel yang memenangkan Hadiah Nobel Ekonomi dari risetnya tentang pembuatan keputusan.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © Ceriwit - All Rights Reserved

%d blogger menyukai ini: