Benarkah Hidup Itu Ujian?

Advertisements
Loading...

Benarkah Hidup itu Ujian? – Pertanyaannya sederhana… Yang menguji siapa? Yang menentukan lulus atau tidaknya, siapa?

Itu cuma persepsi yang dibangun manusia. Persepsi yang dibangun berdasarkan iman.
Hidup itu penuh dengan pilihan-pilihan. Anda bangun pagi, lapar, ingin sarapan. Apa yang Anda makan sebagai sarapan? Anda berhadapan dengan pilihan: nasi, roti, singkong, mie, dan lain-lain. Anda makan sepiring, 2 piring, 3 piring, semua itu pilihan. Setiap pilihan ada konsekuensinya.

Alasan Hidup Bukanlah Ujian

Anda memilih maka nasi, 2 piring. Anda jadikan itu sebagai kebiasaan. Setelah belasan tahun, gula darah Anda tinggi. Anda kena diabetes. Anda anggap diabetes itu ujian dari Tuhan. Anda minta ampun atas dosa-dosa Anda. Tapi kalau cara makan Anda tidak berubah, diabetes Anda makin parah. Diabetes itu bukan ujian, itu hanya konsekuensi dari pilihan hidup Anda.

Tapi kan ada orang yang diabetes karena keturunan? Setahu saya, faktor keturunan hanya meninggikan risiko. Sakit atau tidaknya Anda, tetap ditentukan oleh gaya hidup. Kalau pun ada orang yang sakit akibat sesuatu yang tidak bisa dia elakkan, bagaimana perkembangan penyakit itu tetap tergantung pada pilihan-pilihan yang dia buat.

Anda mau menikah, itu juga pilihan. Anda mau menikah dengan siapa, di mana, dan sebagainya. Itu semua punya konsekuensi. Pernikahan itu bukan ujian. Ia cuma sebuah pilihan dengan sejumlah konsekuensi. Setelah memilih, muncul konsekuensi, dan di hadapan konsekuensi itu Anda berhadapan dengan pilihan lain.

Loading...

Setelah menikah seorang perempuan baru tahu bahwa suaminya ternyata pemalas dan kasar. Itu bukan ujian, ia hanya berhadapan dengan pilihan. Ia bisa memilih untuk membina suaminya, membangkitkan motivasi dan rasa tanggung jawabnya, atau ia meninggalkannya. Kedua pilihan itu punya konsekuensinya masing-masing.

Anda dapat hadiah uang 5 milyar. Apakah itu ujian? Bukan. Itu sebuah kejadian biasa, sama seperti Anda kena sinar matahari. Kejadian itu tidak mengubah apapun. Yang mengubah keadaan adalah pilihan yang Anda buat terhadap kejadian itu.

Kalau Anda pakai uang itu untuk beli rumah dan mobil mewah, lalu berfoya-foya, dalam 1-2 tahun uang itu akan habis. Anda kembali ke keadaan semula. Kalau Anda depositokan, setiap bulan Anda dapat bunga tetap 25 juta rupiah. Kalau Anda pakai untuk modal bisnis, dan Anda mengelolanya dengan baik, mungkin Anda akan jadi kaya raya.

Tidak ada yang menguji Anda. Anda hanya perlu membuat pilihan-pilihan. Lalu adalah kaitannya antara pilihan dengan keimanan? Silakan masukkan pendapat Anda pada kolom komentar.

Tulisan:
Dr. Hasanudin Abdurakhman

Advertisements
Loading...

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *