Tinggal di Singapura Membuat Stress walau Negara Kaya? Benarkah?

Advertisements
Loading...
Siapa sih yang tidak tahu Singapura? Singapura merupakan Negera kecil namun kaya raya. Banyak dari saudara kita yang merantau menjadi TKI ke Singapura. Karena posisinya negara tetangga, dan sangat dekat dengan Indonesia, maka Singapura juga menjadi salah satu tujuan destinasi wisata bagi warga negara Indonesia. Selain daripada itu, Singapura juga merupakan negara maju dengan berbagai teknologi maju berkembang di sana. Sudah kaya, maju pula.

Namun, tahukah Anda, kenapa hidup di Singapura sangat susah dan membuat stress? Pertanyaan ini muncul dari beberapa orang yang memang secara faktual tinggal di sana.

Berdasarkan penuturan dari salah satu orang yang hidup di Singapura, menuturkan pengalamannya. Dan tentu saja, daya juga mencari jawaban atas referensi lain, dan ternyata membuat terhenyak.

Pemerintah Singapura telah berhasil mengubah Singapura menjadi negara kota metropolitan dalam waktu kurang dari 50 tahun. Itu tentunya merupakan suatu pencapaian besar. Namun, dibalik itu, ada sisi gelap yang hanya dirasakan oleh kalangan bawah di negara kami. Para lansia di Singapura tetap harus bekerja keras padahal mereka seharusnya menikmati hasil kerja keras mereka di usia tua. Hal tersebut hanya dirasakan oleh keluarga berpenghasilan rendah hingga menengah yang gajinya sebagian besar digunakan untuk sewa rumah dan tagihan yang mahal.

Baca juga: Kenapa Jembatan Semanggi Dibuat Berkelok?

Alasan Hidup di Singapura Membuat Stress

Berikut alasan-alasannya menurut saya:

Alasan pertama : Overpopulasi. 

Loading...

Pada September 2019, populasi kami mencapai 5,8 juta. Pemerintah memprediski populasi negara kami bisa mencapai 6,9 juta pada tahun 2030. Total luas tanah negara kami hanya 721 km persegi. Kepadatan populasinya adalah 8.274 orang per kilometer persegi. Bayangkan harus berdesak-desakkan setiap kali berangkat kerja. Bayangkan antrian orang-orang saat jam makan siang.

Alasan kedua : Transportasi.

Pada jam-jam sibuk, sering kali terjadi kerusakan kereta MRT. Penduduk setempat selalu bercanda bahwa pemerintah tidak pernah menyebut masalah tersebut sebagai gangguan. Sebaliknya, ini disebut sebagai “kesalahan” kereta. Sederhananya, jalur MRT kami tidak pernah dibangun untuk men-support kereta sebegitu banyak dengan frekuensi 1-2 menit sekali.

Alasan mengapa kereta kami harus memiliki frekuensi 1-2 menit adalah karena ada terlalu banyak orang yang menunggu di stasiun. Ini adalah gambar ketika kerusakan MRT terjadi. Menakutkan ya? Bayangkan melihat pemandangan ini seminggu sekali rata-rata setelah seharian bekerja keras.

Alasan ketiga : Hari tua kurang bahagia  Atau kurang pensiun. 

Usia pensiun minimum di Singapura adalah 62 tahun secara hukum. Ini berarti, perusahaan Anda tidak dapat meminta Anda untuk pensiun sebelum berusia 62 tahun selama Anda seorang warga negara Singapura atau Penduduk Permanen. Ada pepatah di antara para lansia disini: “Bekerja sampai mati”.

Untuk dapat mencari nafkah di Singapura, seseorang harus bekerja sampai tidak bisa berjalan lagi. Sebagian besar lansia kami bekerja sebagai pembersih di pusat perbelanjaan atau di tempat makan cepat saji. Beberapa bahkan mengumpulkan kardus di jalanan, yang lain menjual tisu. Ini hanyalah beberapa contoh besar di mana sebagian besar dari kita di Singapura menerima kenyataan bahwa untuk tetap mendapatkan penghasilan, kami harus benar-benar bekerja sampai mati.

Beriktu ini ada 10 Fakta Menarik tentang Singapura yang jarang diekpos:


Itulah beberapa alasan versi saya mengapa tingkat stres di Singapura cukup tinggi walaupun kami termasuk negara maju.

Advertisements
Loading...

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *