Pesan Gus Dur sebelum Wafat. Sungguh, Membuat Umat Menangis

Advertisements
Loading...
Pesan Gus Dur sebelum Wafat. Sungguh, Membuat Umat Menangis

29 Desember 2009, Gusdur meminta Pak Acun untuk mencarikan karpet. “Ukurannya 2 x 1 meter. Carilah, dan bawa ke sini. Bawa uang 300ribu, Pak.”Pak Acun mengangguk.

Pak Acun menuruti perintah Gus Dur.

Segera saja Pak Acun berkeliling Jakarta, dari satu pusat perbelanjaan ke pusat perbelanjaan berikutnya. Ia mencari karpet berukuran 2 x 1 meter, sebagaimana permintaan Gus Dur..Setelah berkeliling ke sana ke mari, Pak Acun gagal menemukan karpet berukuran tersebut. Ia kembali ke hadapan Gus Dur dan melaporkan kegagalannya.

“Cari lagi, hingga ketemu!” pinta Gus Dur.

Pak Acun pun mengangguk lagi. Berusaha memenuhi permintaan Gus Dur kembali.
Sementara itu, kondisi Gus Dur semakin kritis. Para tamu tidak lagi diperbolehkan untuk menjenguknya. Di ruang itu, yang tinggal hanyalah istri tercinta dan putri-putrinya. Gus Dur masih bisa berbicara, memberikan nasihat-nasihat dan petuah-petuah para putri-putrinya yang terkasih.

“Jadilah orang yang sabar. Cintailah semua orang. Jangan biarkan dirimu digoda untuk menilai seseorang berdasarkan sukunya, warna kulitnya, jenis kelaminnya, bangsanya, dan agamanya. Pandanglah semua orang sebagai sesama manusia, sebagai hamba Tuhan yang layak untuk dicinta.”

***

Detik demi detik rasanya semakin cepat berlalu. Menit menyorong jam, dan jam mengirim siang menuju malam. Hingga uang 300ribu yang seharusnya dipergunakan untuk membeli karpet itu habis untuk ongkos mencari karpet, ternyata Pak Acun tetap saja tidak menemukan karpet berukuran 2 x 1 meter itu. memang, sebenarnya ada karpet yang hampir berukuran itu, tetapi karpet harus dipotong untuk memperoleh ukuran yang persis.

Gus Dur tidak mau.

Pak Acun penasaran, sesungguhnya untuk apakah karpet ini. Gus Dur menjawab, “Untuk kau gunakan berbaring, menemaniku, di sampingku…”

Pak Acun hanya bisa menundukkan kepala.
Malam semakin larut. Putri-putri tercinta telah tertidur. Pak Acun sendiri berjaga-jaga di luar. Kini, hanya Gus Dur dengan wajah yang pucat dan nafas turun naik tidak teratur itu, hanya bisa memandangi wajah sang istri yang masih tetap terjaga.

Baca juga: Membongkar Fakta Sejarah Hari Pahlawan 10 November dan Resolusi Jihad 22 Oktober yang Disembunyikan

Entah sudah berapa banyak air mata yang tumpah di pipi Sinta. “Seandainya air mataku cukup untuk menyehatkanmu, aku akan tumpahkan semua air mata ini untukmu.” Ucap Sinta pelan dan lirih.

“Kau masih seperti dulu, Sinta. Kau selalu seperti ini. tak ada wanita yang terindah dalam hidupku, kecuali engkau. Dalam suka kau temani aku. Dalam sedih kau hibur diriku. Ketika orang-orang datang menyanjung-nyanjungku, hanya melalui dirimu hatiku berbunga-bunga sebab sanjunganmu. Saat orang-orang mengkritikku, menghujatku, mencaci-maki aku, hanya kaulah yang tetap menyanjungku. Cintamu, Sinta, adalah jiwaku.”

“Begitupun cintamu, mas. Aku hidup dengan cintamu. Dan aku ingin selamanya kita bisa bersama.”

“Kita tetap akan bersama, walau alam memisahkan kita, Sinta. Hidupku tinggal sebentar lagi. Dan kematian hanyalah pintu agar aku bisa segera bertemu dengan semua orang yang kucintai.”

“Lalu kau akan meninggalkanku di luar pintu itu?”

Loading...

“Tidak, Sinta. Di pintu surga aku menunggumu…”

“Mas, jangan berkata begitu. Aku takut….”

“Jagalah anak-anak. Jaga mereka dengan kesabaranmu.”

“Aku bisa menjaga mereka, tetapi bagaimana aku bisa menjaga diriku sebab aku masih membutuhkanmu, Mas?”

“Kau kuat. Teruskan perjuangan kita.”
“Ummat membutuhkan kita, dan aku membutuhkanmu.”

“Raga kita bisa berpisah, tetapi cinta kita tak akan berpisah.”

Sinta menangis.

Isak tangisnya menyesakkan dada.

Dengan sepenuh lembut dan lemas, tangan kanan Gus Dur mengelus-elus punggung sang istri itu, dan itulah elusan terakhir yang bisa dilakukan oleh Gus Dur kepada istrinya tercinta.

***
Iya, tanggal 30 Desember 2009.
Gus Dur tidak lagi sanggup untuk berkata-kata lagi. Para dokter tengah berusaha keras untuk mengangkat sakitnya. Tetapi, komplikasi itu memang sangatlah ganas. Manusia hanya bisa berusaha semampu mungkin, toh pada akhirnya semua kembali kepadanya.

Pada 18.45 menit, sang guru bangsa, sang suami setia dan penuh cinta dan kasih itu, menghembuskan nafasnya yang terakhir. Gus Dur berpulang ke rahmatullah.

Di ruangan itu, hanya Sinta dan putri-putrinya saja yang berada. Sang putri bungsu, lemas tergolek di atas kursi. Kakak-kakanya pun hanya bisa terisak di tempat duduknya masing-masing, sementara Sinta, menangis terisak di atas kursi rodanya, memandangi tubuh sang suami yang telah tak bergerak sama sekali itu….

Takdir memang menyatukan dua hati.
Tapi takdir pula yang memisahkan keduanya..Kekasih tercinta, suami terkasih, kini telah berangkat ke surga….

Dalam perjalan ziaroh ke makam Gus Dur pagi ini, 13 Januari 2020, bersama Abah K.H Ma’ruf Islamuddin, pengasuh Pondok Pesantren Walisongo Sragen beserta para santri lainnya, sungguh terasa, nuansanya berbeda dari biasanya. Abah yang biasanya jarang memberikan nasehat di sela-sela ziarah, namun siang ini selepas berdoa’a di depan makam Hadrotusy Syaikh K.H Hasyim Asy’Ari dan Gus Dur, beliau memberikan cerita pengalaman langsung saat Gus Dur taseh sugeng.

Banyak hal yang beliau ceritakan, termasuk yang saya tangkap adalah pesan Gus Dur kepada Abah, bahwa mencari Kiyai yang mau berjuang dan ikhlas menjadi penyalur ilmu dan pewaris para Nabi itu sedikit sekali. Selain daripada itu, kesederhanaan dan sifat bersahajanya Gus Dur juga menjadi asupan contoh keteladanan seorang kiyai besar, wali Alloh tsb.

Semoga, dalam perjalanan ziarah Pondok Pesantren Walisongo ini mampu menjadi pelecut hati kami untuk tetap bisa menjadi orang yang baik, tanpa melihat status sosial, suku, agama dan warna kulitnya, aamiin…

Advertisements
Loading...

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *